Kabar dan Info Terbaru Sapardi Djoko Damono

Sapardi Djoko Damono merupakan salah satu penyair paling terkemuka di Indonesia. Puisi-puisinya dikenal luas oleh masyarakat, terutama oleh pecinta sastra. Salah satu puisinya yang paling terkenal yang berjudul “Aku Ingin” bahkan seringkali dikutip di berbagai undangan pernikahan, yang bait-baitnya menyiratkan rasa penerimaan terdalam seorang pecinta: Aku ingin mencintaimu dengan sederhana/ dengan kata yang tak sempat diucapkan/ kayu kepada api yang menjadikannya abu. Bait puisi yang sangat romantis tersebut hanyalah contoh kecil yang menunjukkan bahwa Sapardi merupakan salah satu penyair terbaik di Indonesia. Pada tahun 2016 ini, usia Sapardi atau yang sering dipanggil dengan inisial namanya yaitu SDD, sudah memasuki usia ke-76 tahun. Berikut ini adalah kabar dan info terbaru mengenai Sapardi Djoko Damono, sang penyair yang puisi-puisinya dikenal liris dan romantis.

Sapardi lahir di Surakarta, 20 Maret 1940. Pendidikan sastranya diperoleh dari Universitas Gadjah Mada dan kemudian melanjutkan studi Master di Universitas Hawaii, Honolulu, Amerika Serikat. Sapardi meraih gelar Doktor dari Universitas Indonesia dan dikukuhkan sebagai Guru Besar atau Profesor di Institut Kesenian Jakarta. Selain berkecimpung di dunia akademis, penyair penggubah puisi “Yang Fana Adalah Waktu” ini juga pernah menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta, pengurus Pusat Dokumentasi Sastra HB. Jassin di komplek Taman Ismail Marzuki, hingga menjadi pengurus RT. Dalam bidang kesusasteraan, penyair yang tidak pernah lepas dari topi khasnya ini juga pernah menjadi redaksi rubrik sastra di Majalah Basis, Majalah Sastra Horison, Kalam, dll.

Selain menulis puisi, Sapardi menulis karya sastra lainnya seperti cerita pendek dan novel. Sapardi juga banyak menulis buku kritik sastra, esai, dan banyak menerjemahkan karya-karya sastra asing ke dalam bahasa Indonesia. Sapardi yang semasa sekolah mengaku mempelajari empat bahasa asing (yaitu Jerman, Inggris, Prancis, dan Latin) ini mengaku tidak terlalu produktif menulis. Sebagai contoh, buku pertamanya terbit pada tahun 1959 dan sapardi baru menerbitkan buku keduanya pada tahun 1974. Rentang jarak 5 tahun antara buku pertama dan keduanya tersebut menurut Sapardi disebabkan karena dirinya bukanlah penulis yang produktif.

Karya-karya Terbaru Sapardi

Sampai pertengahan tahun 2016, Sapardi sudah menerbitkan lebih dari 50 judul buku, yang terdiri dari kumpulan puisi, kumpulan cerita, novel, kumpulan esai, kritik sastra, hingga buku-buku sastra terjemahan. Tahun 2016 Sapardi menerbitkan tiga judul buku, yaitu “Bilang Begini, Maksudnya Begitu” (kumpulan esai terkait puisi), “Hujan Bulan Juni” (novel), dan “Trilogi Soekram” (prosa). Info terbaru, dalam sebuah wawancara pada bulan Agustus 2016, Sapardi mengatakan bahwa empat buku terbarunya juga akan terbit akhir tahun ini dan awal tahun depan.

Dalam dunia kesusastraan, Sapardi mendapatkan banyak penghargaan, di antaranya adalah: SEA Write Award (1986) dari Kerajaan Thailand, Anugerah Seni (1990) dari Pemerintah Rapublik Indonesia. Dan info terbaru, beberapa waktu lalu Sapardi memperoleh penghargaan Habibie Award 2016 dalam bidang kesusasteraan.

Spread the word. Share this post!